Mengulik Ekspor VS Impor untuk UKM, dari Profit sampai Risiko Pajak. Mana yang Lebih Untung?

Saat ini siapa saja yang punyai kemauan kuat dapat membangun usaha sendiri. Dimulai dari usaha rumahan seperti jual keripik pisang, daster, sampai perlengkapan rumah tangga dari rotan. Bila ditelateni, hasilnya juga dapat benar-benar cukup lo! Jika usaha kita berharga di bawah Togel Hari ini 200 juta rupiah, bermakna terhitung dalam Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Rupanya UKM memiliki beberapa keuntungan seperti bisa lakukan export dan import.

Saat lakukan export, bermakna kita jual barang dari dalam negeri ke luar negeri. Kita dapat pilih barang yang mentah seperti beras atau barang yang telah jadi seperti pakaian atau celana. Sedang import ialah kebalikannya, yakni beli barang di luar negeri untuk dipasarkan ke negeri. Kita dapat beli bahan mentah untuk diproses di sini atau beli barang yang siap jual.

Tiap negara memiliki hasrat yang lain. Misalkan banyak orang Indonesia lebih senang makanan yang kaya rempah-rempah, sedang orang Jepang lebih senang makanan dengan cita-rasa yang enteng. Ini penting diingat saat kita mengekspor atau mengimpor barang. Yakinkan barang yang dipasarkan sesuai hasrat customer di situ. Karena jika tidak, bisa-bisa barang kita susah terjual. Jadi kerjakan penelitian customer lebih dahulu ya, dapat dengan cari rujukan di internet.

Jika jual barang di luar negeri, bermakna jumlah rivalnya banyak. Sehingga kita perlu perlu jual barang dengan standard kualitas yang baik dan harga yang relatif dapat dijangkau. Bagaimana jika kita mengimpor barang? Jumlah rivalnya relatif semakin sedikit. Apa lagi jika barangnya masih jarang-jarang dipasarkan di sini, kita dapat memimpin pasar dan raih keuntungan yang banyak.

Kecuali mempertimbangkan harga jual dan harga membeli satu barang, kita perlu menimbang pajaknya. Apa lagi ketentuan pajak untuk export dan import berlainan. Dikutip dari Kompas, pemerintahan mengaplikasikan pajak export baru semenjak 30 Januari 2020. Barang yang kita membeli di luar negeri akan dikenakan pajak 17,5% dari harga barang. Tapi ini cuman berlaku untuk barang yang harga di atas 3 dollar AS atau seputar Rp42.000.